Jangan Ada Hoaks Diantara Kita

"Jangan Ada Hoaks Diantara Kita"
Di zaman yang serba canggih ini, banyak sekali sumber-sumber yang dapat digunakan masyarakat untuk mendapatkan atau mencari berita-berita terbaru tentang apa yang telah terjadi di suatu daerah,negara bahkan penjuru dunia.
Salah satu sumber yang kerap kali digunakan masyarakat untuk mendapatkan berita adalah media sosial.
Media sosial adalah media online yang mendukung adanya interaksi sosial. Media sosial menggunakan teknologi berbasis web yang mengubah suatu komunikasi ke dalam dialog interaktif.
Saat ini di Indonesia sangat banyak media sosial yang dapat dijadikan sumber bagi masyarakat untuk mendapat berita-berita terbaru seperti youtube,facebook,instagram,twitter dan masih banyak lagi.
Pada kesempatan ini, yang menjadi pusat perhatian penulis bukanlah tentang media sosial melainkan begitu banyaknya berita hoax yang tersebar di media sosial. Karena saat ini berita hoax di media sosial sudah sangat memprihatinkan.


Berita Hoax adalah informasi palsu,berita bohong atau fakta yang direkayasa.
Di media sosial masih banyak tersebar berita-berita palsu dan tidak jelas kebenaranya atau disebut dengan berita hoax
Ada dua faktor yang menyebabkan tersebarnya berita hoax.
Pertama. Berita hoax yang secara sengaja dibuat dan disebarkan oleh oknum atau sebuah kelompok.
Biasanya oknum atau kelompok yang sengaja menyebarkan berita hoax memiliki tujuan-tujuan tertentu. Ada berita hoax yang sengaja dibuat dan disebarkan hanya untuk menaikan popularitas, atau hanya untuk mencari sensasi saja. Ada pula berita hoax yang dibuat dan disebarkan bertujuan untuk kepentingan politik, yaitu dengan memfitnah lawan politiknya Masih banyak lagi hal yang menjadi pemicu oknum atau sebuah kelompok untuk membuat dan menyebar dengan sengaja berita palsu atau hoax. Berikut salah satu contoh kasus hoax yang sengaja di buat.
Belum lama ini terdengar berita tentang seorang aktivis yaitu Ibu Ratna Sarumpaet yang di kabarkan di aniaya oleh sekelompok orang yang tidak di kenal. Beberapa foto tersebar di media sosial bahwa ibunda artis Atika Hasiholan tersebut tampak mengalami memar di wajahnya. Setelah dilakukan banyak pemeriksaan oleh pihak kepolisian, akhirnya terbongkarlah bahwa berita tentang adanya penganiayaan terhadap Ibu Ratna Sarumpaet hanyalah berita bohong atau hoax, dan wajah memar yang terlihat di beberapa foto yang tersebar di media sosial ternyata hanyalah luka bekas operasi plastik. Entah apa maksudnya, yang jelas berita bohong atau hoax ini jelas dibuat dengan sengaja.
Kedua. Berita hoax yang tidak di sengaja
Kadang ada beberapa oknum atau kelompok yang ingin membuat lelucon saja di akun media sosial mereka. Akan tetapi berita yang awalnya hanya untuk menjadi bahan bercandaan jutsru berakibat fatal. Oleh karena itu kita selaku pengguna media sosial harus lebih berhati-hati, jangan sampai apa yang kita kirim ke media sosial justru membawa kita ke jalur hukum. Ini salah satu contoh berita hoax yang tidak di sengaja.
Beredar kabar di media sosial mengenai seorang pria yang disebut sudah tewas bisa bangkit lagi setelah dikubur di dalam lumpur. Pria itu dikubur setelah badannya tersetrum.
Dari video yang tersebar di Facebook, terlihat seorang pria bertelanjang dada tampak mengubur korban sebagian badan dengan lumpur. Dia juga melumuri korban menggunakan lumpur tersebut. Peristiwa ini disebut terjadi di Desa Sungai Purun Kecil, Sungai Piyuh, Kalimantan Barat. Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono mengatakan korban yang bernama Susanto mengalami kecelakaan kerja, yakni tersetrum listrik. Pada saat kejadian, korban sedang melakukan pemasangan kanopi di depan sebuah bengkel karena jarak kanopi yang dibuat terlalu dekat dengan kabel TM (jaringan listrik) sehingga menyebabkan korban kesetrum,” ujar Didi.
Setelah kejadian itu warga melakukan pertolongan dengan mengubur sebagian tubuh korban dengan menggunakan lumpur. Dan ternyata susanto(korban) masih dalam keadaan hidup ketika setengah badannya dikubur oleh warga. Mengapa bisa dibilang tidak sengaja. Karena video yang beredar di media sosial tidak merekam semua hal yang terjadi pada peristiwa tersebut.
Di Indonesia sudah ada Undang-undang tentang penyebaran berita bohong atau hoax yaitu
1.Undang Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi.
Pasal 28 ayat 1 dan 2
2. Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana
Pasal 14 ayat 1 dan 2
Pasal 15 ayat 1
Pada kesempatan ini penulis menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia yang menggunakan media sosial. Cerdaslah bermedia sosial. Jangan mudah percaya dengan berita-berita yang ada di media sosial. Jangan terlalu cepat menyebarkan berita yang belum jelas kebeneranya.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membedakan berita hoax dan fakta di media sosial :
1. Cek nama dan situs media.
Sebelum mempercayai berita sebaiknya kita cek dahulu dapat di percaya atau tidak nama dan situs media yang menjadi sumber berita tersebut. Apabila situs tersebut berdomain blog atau nama media terkesan provokatif lebih baik mencari berita di situs tepercaya lain
2. Cek dari sumber-sumber tepercaya lain.
Biasanya berita yang akurat pasti akan banyak tersebar di sumber-sumber tepercaya. Sebaiknya di cek kembali
3. Cek foto dan video.
Bukan hanya dari tulisanya saja yang perlu di cek, foto dan video berita tersebut juga harus di cek. Takutnya foto dan video itu tidak terkait dengan kejadian sesuai berita.
Masih banyak lagi cara membedakan dan mengecek kebeneran suatu berita.
Pada tulisan ini penulis berpesan kepada masyarakat yang menggunakan media sosial termasuk saya untuk lebih waspada dalam melihat berita. Dan janganlah sekali-sekali membuat berita bohong atau hoax hanya untuk kepentingan pribadi. Setiap agama melarang kita untuk berbohong. Jadi jika anda membuat berita hoax anda sudah membohongi banyak orang bayangkan hukum apa yang akan di beri tuhan kepada anda.
Penulis sangat berharap kepada pemerintah untuk menindak lanjuti hal-hal kecil seperti ini. Penyebaran berita hoax di media sosial tidak dapat di pandang sebelah mata, karena berita hoax dapat menjadi pemicu perpecahan Rakyat Indonesia.[1]

Referensi :
1. https://www.unja.ac.id/2018/12/03/jangan-ada-hoax-di-antara-kita/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strategi Pembelajaran Induktif dan Deduktif

Perkembangan Peserta Didik: Kebutuhan dan Pemenuhannya

Perkembangan Peserta Didik: Perkembangan Bakat Khusus